Ibadah Peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia ke-68
“Merdeka! Merdeka! Merdeka!” demikian pekik kemerdekaan dengan lantang diucapkan pendeta Fritz Yohanes Dae Panny ketika mengawali kotbahnya dalam Ibadah Peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia ke-68 yang diselenggarakan Sabtu, (17/8) di GKJ Manahan. Ibadah diawali dengan upacara sederhana bersama warga jemaat, dengan prosesi pengibaran bendera Merah Putih.
Kata “merdeka” hari ini bisa kita ucapkan dengan bebas tanpa ada siapapun yang menghalangi kita. Bayangkan dulu para pejuang meneriakkan pekik kemerdekaan, mereka mendapatkan ancaman, penganiayaan, penindasan dilarang membicarakan kemerdekaan. Maka kata "merdeka" bagi mereka memiliki makna yang mendalam. Kemerdekaan ini adalah untuk bangsa indonesia sebagai suatu kesatuan.
Ibadah Minggu (14/3) di GKJ Manahan jam 18.00 WIB dilayani oleh Pendeta Fritz Yohanes Dae Pany, S.Si dengan kotbah yang didasarkan dari Kisah Para Rasul 9: 1-9 mengenai kisah pertobatan Saulus. Dalam kotbahnya, Pendeta Fritz menyatakan bahwa dalam kehidupan beragama, sebagai seorang pribadi tentunya ada yang kita harapkan dari sebuah lembaga keagamaan. Dalam situasi tidak menentu seperti sekarang ini, tentunya ada rasa prihatin yang sangat besar, sehingga muncul harapan lembaga-lembaga agama -salah satunya Gereja- bisa memberikan jawaban yang tidak bisa diberikan oleh partai-partai politik. Bukankah kita rindu orang-orang beragama bisa memberikan pencerahan saat kita sedang ada dalam kegelapan, dalam situasi masyarakat yang kurang baik saat ini. Faktanya kadang jauh dari yang kita harapkan. Lembaga-lembaga agama yang diharapkan bisa menjadi organisasi yang memperjuangkan kasih dan keadilan justru menjadi pejuang ketidakadilan.