“Merdeka! Merdeka! Merdeka!” demikian pekik kemerdekaan dengan lantang diucapkan pendeta Fritz Yohanes Dae Panny ketika mengawali kotbahnya dalam Ibadah Peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia ke-68 yang diselenggarakan Sabtu, (17/8) di GKJ Manahan. Ibadah diawali dengan upacara sederhana bersama warga jemaat, dengan prosesi pengibaran bendera Merah Putih.
Kata “merdeka” hari ini bisa kita ucapkan dengan bebas tanpa ada siapapun yang menghalangi kita. Bayangkan dulu para pejuang meneriakkan pekik kemerdekaan, mereka mendapatkan ancaman, penganiayaan, penindasan dilarang membicarakan kemerdekaan. Maka kata "merdeka" bagi mereka memiliki makna yang mendalam. Kemerdekaan ini adalah untuk bangsa indonesia sebagai suatu kesatuan.
Pendeta Fritz mendasarkan kotbahnya dari bacaan Injil Yohanes 8: 30-41 mengenai kebenaran yang memerdekakan.
Kata 'merdeka', menurut pendeta Fritz, adalah suatu kata yang sederhana, akan tetapi untuk meraihnya bukanlah suatu hal yang sederhana dan mudah. Membutuhkan begitu banyak pengorbanan yang telah diberikan oleh para pejuang dan para pahlawan.
Kalau semua suku bangsa Indonesia tidak bersatu, maka tidak akan ada kemerdekaan. Perjuangan yang bersifat kedaerahaan maka kemerdekaan tidak akan dapat dicapai. Bila ada kemerdekaan, maka ada kesatuan, ada perjuangan.
Mengapa para pahlawan dan para pejuang mau berkorban, mau bersatu dalam perjuangan? karena kecintaan mereka pada Indonesia. Apa sih yang membuat Indonesia layak dicintai? Apakah karena kecantikan dan kekayaan alamnya, sedangkan pada masa itu Indonesia sedang tidak karuan rupanya. Cinta kepada Indonesia ini muncul karena kemauan dan kemampuan pemimpin bangsa kita, yang melihat bahwa dibalik segala keburukan Indonesia pada masa itu, ada sesuatu yang mulia.
Firman Tuhan juga berbicara tentang kemerdekaan. Tetapi Firman Tuhan dalam Yohanes 8: 30-41 menyatakan sebuah hal yang ironi. Orang yang tidak merdeka menyatakan diri seagai orang merdeka padahal mereka jelas-jelas terbelenggu.
Tuhan Yesus mengatakan "kalau kamu menyatakan diri sebagai orang merdeka, tidak mungkin kamu akan membunuh Aku karena aku memberitahukan kebenaran-kebenaran". Orang yang merdeka dari dosa tentu tidak akan membenci orang yang memberitakan kebenaran Firman Tuhan, orang yang merdeka dari dosa tidak akan mencaci para pemberita kebenaran.
Galatia 5: 19-21a menyatakan “Perbuatan daging telah nyata, yaitu : percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya.
Ada orang yang tidak merdeka, yang masih terbelenggu oleh keinginan daging, oleh iri, dan dengki.
Sudahkah kita merdeka? Tuhan Yesus memerdekakan kita maka kita benar-benar merdeka. Tuhan Yesus sudah menderita dan mati di kayu salib demi cintaNya yang luar biasa kepada kita. Ia ingin kita dimerdekakan, dilepaskan dari belenggu dosa.
Kalau kita sudah merdeka, lihatlah Abraham. Sebagai orang merdeka, ketika ia mendengarkan Firman Tuhan, ia tidak akan membunuh orang yang memberitakan firman Tuhan itu.
Galatia 5: 22 menyatakan ciri orang yang telah dimerdekakan dari dosa, yaitu kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.
Tuhan Yesus menghendaki kita yang dulunya hidup bergelimang dosa, supaya kini kita hidup dalam jalan yang telah ditentukanNya.
Seburuk apapun bangsa kita, apapun kekurangan bangsa kita, jangan kita caci, tetapi marilah kita sama-sama berjuang membangun bangsa Indonesia ini.