Ibadah Minggu (14/3) di GKJ Manahan jam 18.00 WIB dilayani oleh Pendeta Fritz Yohanes Dae Pany, S.Si dengan kotbah yang didasarkan dari Kisah Para Rasul 9: 1-9 mengenai kisah pertobatan Saulus. Dalam kotbahnya, Pendeta Fritz menyatakan bahwa dalam kehidupan beragama, sebagai seorang pribadi tentunya ada yang kita harapkan dari sebuah lembaga keagamaan. Dalam situasi tidak menentu seperti sekarang ini, tentunya ada rasa prihatin yang sangat besar, sehingga muncul harapan lembaga-lembaga agama -salah satunya Gereja- bisa memberikan jawaban yang tidak bisa diberikan oleh partai-partai politik. Bukankah kita rindu orang-orang beragama bisa memberikan pencerahan saat kita sedang ada dalam kegelapan, dalam situasi masyarakat yang kurang baik saat ini. Faktanya kadang jauh dari yang kita harapkan. Lembaga-lembaga agama yang diharapkan bisa menjadi organisasi yang memperjuangkan kasih dan keadilan justru menjadi pejuang ketidakadilan.
Demikian pula dengan Saulus. Dia adalah orang Farisi. Generasi muda dari kelompok Farisi yang memiliki prestasi luar biasa, orang-orang yang sedemikian mencintai agamanya. Saulus yang sangat mengerti ajaran agama malahan mengejar-ngejar orang lain untuk membunuh pengikut Kristus. Organisasi agama waktu itu bersekongkol melakukan kejahatan-kejahatan. Ada orang-orang yang melakukan kejahatan atas nama agama dan merasa berhak melakukan itu sebagai tindakan yang benar. Mereka melakukan itu berdasarkan kebenaran versi mereka sendiri. Yang patut kita syukuri, bahwa orang yang sedemikian jahat dengan pembenaran-pembenaran versinya sendiri, kini telah disadarkan oleh Tuhan Yesus sendiri yang telah bangkit dari antara orang mati.
Muncul pertanyaan Saulus kepada Tuhan “siapakah engkau Tuhan”, yang kemudian dijawab Yesus “akulah Yesus yang kau aniaya itu”. Demikianlah hal ini menjadi pernyataan bahwa Tuhan selalu ada bersama-sama dengan orang-orang percaya. Segala penganiayaan maupun penderitaan yang dialami orang percaya demikian pula hal yang sama yang dialami oleh Tuhan Yesus. Siapapun yang menganiaya dan membuat orang percaya menderita, sesungguhnya sedang menganiaya Tuhan Yesus.
Kekristenan yang sejati adalah orang yang seperti Saulus. Orang kristen sejati bukan orang yang sempurna, bukan orang yang tidak berbuat salah, tetapi orang yang mau berbalik kepada Tuhan. Berbalik dari hidupnya yang penuh dosa menjadi hidup yang berkenan kepada Tuhan. Orang Kristen adalah orang yang menjadikan kebenaran Firman Tuhan sebagai dasar hidup, bukan kebenaran versinya sendiri.
Selain perjumpaan dengan Tuhan Yesus, Saulus bertobat juga karena melihat kehidupan Stefanus, seorang Kristen. Stefanus yang mati dirajam di bawah kuasa Saulus, menjelang kematiannya masih berdoa supaya dosa pembunuhan atas dirinya tidak ditanggungkan atas mereka yang merajamnya. Hal inilah yang mengejutkan Paulus, bahwa diujung hidupnya Stefanus masih mengampuni mereka yang membunuhnya.