Bacaan; Leksionari:
PL : Ulangan 6:1-9
PB : Ibrani 9 : 11–14
Tanggapan : Mazmur 119:1-8
Injil : Markus 12:28–34
Dalam setiap ibadah gereja, salah satu bagian liturgy yang senantiasa ada adalah pembacaan Hukum Kasih, bahkan pembacaan Hukum Kasih ini ditempatkan di sekitar awal ibadah. Apa pentingnya semua itu? Bagi Gereja Kristen Jawa, Hukum Kasih merupakan salah satu dari warisan Rohani yang penting dalam kehidupan bergereja karena ini merupakan inti sari dari Sepuluh Hukum Tuhan. Melalui Hukum ini Tuhan Yesus hendak menunjukkan bahwa mengasihi Tuhan adalah jiwa dari segala hukum. Itu berarti melaksanakan hukum yang lain adalah benar di mata Allah, hanya apabila itu dilakukan dengan dijiwai oleh kasih kepadaNya sebagai jawab atas kasih Allah yang lebih dahulu diterima orang percaya.
Sementara hukum yang kedua yang sama pentingnya dengan hukum mengasihi Allah adalah mengasihi sesama manusia seperti mengasihi dirimu sendiri. Hal ini dijelaskan dan ditegaskan oleh Tuhan Yesus mengingat pada saat itu perintah di dalam Hukum Taurat itu mempunyai bobot yang tidak sama. Para ahli Taurat saat itu ingin mengetahui apakah Tuhan Yesus mempunyai kemampuan untuk menimbang-nimbang bobot dari berbagai macam hukum Taurat yang jumlahnya 613. Agaknya pertanyaan itu dilontarkan untuk menguji kemampuan Tuhan Yesus. Namun Tuhan Yesus menjawab: “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah; Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.
Kalau bisa kurumuskan kembali, mengasihi Tuhan hendaknya dijalankan dengan kesadaran penuh
(= segenap "hati" /"akalbudi") yang keluar dari keyakinan (= segenap "jiwa") dan tekad utuh (= segenap "kekuatan"). Jadi bukan hanya setengah-setengah, mendua, atau ikut-ikutan, tapi dengan pengertian. Lalu mengasihi sesama itu kan karena sesama itu seperti kita-kita ini juga dalam suka duka kehidupan ini. Artinya kita mau menempatkan perasaan diri kita sendiri pada perasaan orang lain tahu memperlakukan orang lain sama seperti kita memperlakukan diri sendiri. Misalnya kalau kita tidak mau dicubit, jangan mencubit orang lain. Kalau kita ingin dihormati, hormatilah orang lain terlebih dahulu. Teladan untuk melakukan hukum itu adalah Tuhan Yesus. Yesus memenuhi kedua perintah utama tadi. Boleh dikatakan, seluruh hidupnya diserahkan untuk mengasihi Yang Mahakuasa dengan kesadaran penuh dan dengan keyakinan dan tekad yang matang. Dan semuanya ini terungkap dalam kesediaannya ikut merasakan yang dialami orang lain. Ia percaya orang lain itu juga seperti dia sendiri: dikasihi Allah dan oleh karenanya dapat mengasihiNya. Inilah dasar dan inti hidup beragama. Dari firman diatas kita semakin diperjelas betapa inti hidup beragama itu sebetulnya menomorsatukan Allah dan sesama, bukan aturan-aturan agama belaka yang malah bisa menjauhkan orang dari sesama dan dari Allah sendiri.
Add comment