
"Kasih!....Kaasih!!....Kasiih!!!" Teriak ibu muda melerai kedua anaknya yang berebut mainan. Lebih ditujukan kepada anak tertua, dengan jengkel setiap kata diucapkan makin keras, makin ditekan mantap.
Bahasa Indonesia memberi makna ganda pada kata "Kasih" Pertama berarti "sayang/cinta" dan kedua berarti "beri" (KUBI: 451), hal ini mempermudah penjelasan, pengajaran betapa dekatnya kedua arti tadi. Oleh "Sayang atau Cinta" lahir kesediaan, lahir tindakan mem"beri" Tetapi Jengkel, marah, akan menutup peluang dan menghapus kemudahan yang tersedia.
Bersyukur, Kasih Ibu (rumusan ibu Sud) masih tetap menjadi contoh kasih yang paling bermutu diantara kasih antar manusia.
Bacaan leksonari minggu ini bercerita tentang sesuatu yang baru, yakni langit bumi baru, yang kosmik menjadi yang kekal. Yerusalem baru dengan Allah diantara umat-Nya, tanpa perkabungan (Why 21: 1-6) Cara pandang baru terhadap haram dan halal, sunat dan kafir (KPR 11: 1-8). Pendek kata, tentang keluarga Damai Sejahtera Allah yang penuh sukacita, tak lagi tersekat, dimana Kasih menjadi identitas keluarga, menjadi hukum positif baru yang tidak membebani (Yoh 13: 31-35) Kasih dengan kualitas Agape (Yoh 13: 34, 35) yang melampaui mutu kasih pada lagu Kasih Ibu. Kasih yang menjadi centerpiece membangun relasi kesetia kawanan, yang rela memberi yang terbaik. Kasih yang mengarahkan kekasihnya untuk mengasihi DIA yang telah lebih dulu mengasihi. Kasih yang mengarahkan semua makhluk memuji Allah dengan sepenuh hati, jiwa dan pemikiran (Mzm 148). Kasih yang berani menceritakan kasih Allah kepada manusia, yang berani percaya pada hari penghakiman (1 Yoh 4: 17)
Sebagai warga keluarga damai sejahtera Allah, marilah kita saling mengasihi. Kiranya kasih Allah menolong kita!
Sumber: Warta Gereja Edisi: Minggu, 28 April 2013
Add comment