Ibadah Minggu di GKJ Manahan jam 18.00 WIB dilayani oleh Pdt. Idi Bangun Mulyono, S.Si dari GKJ Sukoharjo dengan kotbah yang didasarkan dari Markus 1: 29-39. Di awal kotbahnya Pendeta Idi menyampaikan latar belakang beberapa bacaan Leksionari dari Yesaya 40: 21-31, I Korintus 9: 16-23 juga Markus 1: 29-29. Sebuah pertanyaan di awal kotbahnya : “Pernahkah kita merasa bahwa hidup kita sedang tidak diperhatikan oleh Tuhan? Misalnya ketika kita sedang mengalami masalah berat, sudah berdoa sungguh-sungguh mohon pertolongan Tuhan tetapi Tuhan tak kunjung menjawab. Padahal kita terus setia melayani Tuhan. Lalu muncullah kata-kata – Hidupku tersembunyi dari Tuhan. Dan hakku tidak diperhatikan oleh Tuhan – ”
Jika kita merasakan sama seperti pertanyaan di atas, maka kita tidak jauh beda dengan bangsa Israel pada zaman Yesaya. Tuhan sebenarnya selalu menolong bangsa Israel, tetapi bangsa Israel tidak merasakan pertolongan Tuhan. Cara pandang yang sempit mempengaruhi kita dalam melihat pertolongan Tuhan. Sempitnya cara pandang membuat kita hanya berfokus pada masalah kita dan mengabaikan pertolongan Tuhan dalam bidang lain hidup kita.
Yesaya 40:26-27 menyatakan : Arahkanlah matamu ke langit dan lihatlah: siapa yang menciptakan semua bintang itu dan menyuruh segenap tentara mereka keluar, sambil memanggil nama mereka sekaliannya? Satupun tiada yang tak hadir, oleh sebab Ia maha kuasa dan maha kuat. Mengapakah engkau berkata demikian, hai Yakub, dan berkata begini, hai Israel: "Hidupku tersembunyi dari TUHAN, dan hakku tidak diperhatikan Allahku?"
Lihatlah sekeliling kita, banyak orang tidak seberuntung kita. Banyak yang masih mencari-cari keselamatan, bahkan masih banyak pula yang hidupnya tidak seberuntung kita yang serba berkecukupan. Tuhan menghendaki umat dapat berkarya nyata untuk menolong sesamanya, tetapi malahan umat berlaku pasif hanya menunggu pertolongan dari Allah terus-menerus.
Allah memberi kebahagiaan bagi kita, dan sering kali kita lupa berbagi kebahagiaan kita itu dengan sesama. Lihatlah Paulus. Walaupun dia memiliki beban hidup yang tidak ringan, tidak memiliki fisik yang kuat lagi -ada penyakit yang dideritanya-, ia dikucilkan, ia sudah mulai disingkirkan demikian pula sebagai orang yahudi, bagaimana ia bisa melayani orang-orang yang kebanyakan bukan orang yahudi. Tetapi Paulus tetap setia melakukan pekerjaan Tuhan.
Semua hal yang dialaminya dipahaminya sebagai realitas dan terus membuatnya melayani Tuhan. Bahkan ia tidak meminta upah dari pelayanannya. Kalau demikian apakah upahku? Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil. (I Korintus 9: 18)
Selama hidup kita, apa yang telah kita lakukan untuk Tuhan. Apakah kita terlalu berfokus minta pertolongan dari Allah dan lupa melakukan tugas nyata kita melayani sesama kita?
Hal-hal yang bisa kita simpulkan dari pelajaran hari ini adalah, pertama, arahkanlah pandangan ke langit – arahkanlah pandangan tidak pada kebutuhan kita sendiri, tetapi lihatlah ke langit, hidup kita secara luas, lihatlah orang-orang sekitar kita. Lihatlah orang-orang yang membutuhkan pertolongan kita. Banyak orang yang berseru-seru meminta pertolongan kepada kita. Kedua, cerdik dan cerdas dalam mewartakan kasih Kristus. Lihatlah Paulus yang bisa masuk ke semua kalangan untuk memberitakan Injil tanpa kehilangan jati dirinya. Jangan putus asa memberitakan Injil Tuhan sekalipun banyak tantangan. Semua kesulitan pemberitaan Injil itu sudah ada sejak zaman rasul Paulus. Semua kesulitan itu tidaklah pantas menjadi alasan kita memberitakan Injil Kristus. Kasih Tuhan tidak terbatas di satu tempat tetapi harus disebarluaskan kepada orang-orang lain di tempat-tempat lain.
Kiranya Tuhan memampukan kita, dari pada bengong diam hanya menunggu pertolongan Tuhan, lebih baik mengerjakan tugas pelayanan kita dengan sukacita di dalam Tuhan Yesus. [SePur]
Add comment