Ibadah minggu (29/5) jam 18.00 WIB dilayani oleh Pdt. Tanto Kristiono, S.Th, M.Min dengan kotbah yang didasarkan dari bacaan leksionari Injil Yohanes 14: 15-21 dan Surat 1 Petrus 3: 13-19. Berikut ini ringkasan kotbahnya. Jika kita melihat orang kristen rajin beribadah di gereja adalah hal yang biasa, demikian juga jika kita melihat orang kristen memberikan persembahan, berbuat baik, itu biasa. Tidak ada hal aneh dari hal itu. Bukanlah sesuatu yang istimewa bila orang kristen rajin berdoa dan memperhatikan orang lain. Karena demikianlah yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Orang kristen yang aktif dan menjadi pemimpin di gereja juga bukanlah hal yang istimewa.
Yang tidak biasa adalah jika kita melihat bagaimana orang kristen bisa menahan dengan penuh kesabaran bila orang lain menyakiti dengan memfitnah, mencerca dengan cara-cara yang tidak nyaman. Orang kristen yang memberkati orang lain yang berbuat jahat terhadap dia, orang yang tekun dalam penderitaannya, itulah hal yang luar biasa yang semestinya kita bisa kerjakan. Bukan sekedar hal-hal standar seperti rajin kegereja, berdoa, memberikan persembahan dan hal-hal lain.
Menguduskan Kristus dalam hati adalah bagaimana kita mampu memberkati orang yang menyakiti kita. Bertahan dalam penderitaan, sepahit apapun itu, dengan demikian baru bisa kita rasakan iman dalam diri kita. Ada kecerdasan iman di dalamnya, sebab kita bisa dengan setia dalam penderitaan, tidak melakukan atau ucapan-ucapannya bukan merupakan pelampiasan emosinya. Malahan emosinya diredam sedemikian rupa.
Inilah tantangan kita, mungkin dalam hal-hal kecil sehari-hari kadang kita gagal. Jika dalam hala-hal kecilpun kita sudah dikuasai ego kita, bagaimana kita bisa menghargai dan peduli pada orang lain? Kuduskanlah Kristus dalam hatimu sebagai Tuhan. Ada hal-hal yang selama ini kerap mengganggu dalam pemikiran kita. Harus ada perubahan budaya yang selama ini kita lakukan dalam interaksi dengan orang lain. Mari kita menyadari bahwa masing-masing kita dibentuk oleh sebuah proses yang panjang. Kultur linguistik yang membentuk kita menjadi sekarang ini bisa saja adalah kultur yang keliru yang menyebabkan keluarga kita tertindas, tertekan. Kultur itu bisa saja kita terapkan dalam keluarga kita, akibatnya ada ketidakharmonisan dalam keluarga.
Jika kita tidak menguasai diri dalam hal-hal kecil tersebut, bisa-bisa Kristus hanya kita butuhkan dalam masa-masa sulit saja. Mari kita bertahan dalam penderitaan yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari sebagai wujud kita menguduskan Kristus dalam hati kita sebagai Tuhan. [SePur]
Add comment