
Ibadah jam 18.00 WIB dilayani oleh Pdt. Sapta Kumara Andaru Indra Hartoko, S.Th, dari GKJ Bulu – Sukoharjo. Kotbah didasarkan dari Injil Lukas 14: 7-14 tentang perumpamaan yang disampaikan oleh Tuhan Yesus ketika mengamati orang-orang yang berusaha memduduki tempat-tempat kehormatan. Orang-orang Yahudi sangat memperhatikan kedudukan, apalagi posisi duduk dalam perjamuan pesta. Memang kebiasaan mereka, tempat duduk diatur sedemikian rupa, sehingga status dan kedudukan sosial seseorang akan tampak dari tempat kehormatannya.
Orang-orang Farisi adalah kelompok yang sangat memperhatikan mengenai kehormatan-kehormatan itu. Bahkan sebelumnya, dalam Lukas 11: 43, Tuhan Yesus pernah mengkritisi orang-orang Farisi itu karena suka menerima penghormatan.
Sekilas memang perumpamaan itu adalah tentang kedudukan dalam jamuan pesta, atau praktisnya sekarang ini adalah dalam peribadahan. Dalam Amsal 25: 6-7, berisi nasehat untuk dapat melihat diri sendiri dan menempatkan diri sesuai kedudukannya. Lebih baik menempatkan diri di tempat paling rendah, supaya bila tuan rumah melihat, akan meminta untuk duduk di tempat yang lebih terhormat dan akhirnya mendapatkan penghormatan di depan semua orang. Akan tetapi hal ini tidak berlaku bagi orang Farisi yang memiliki karakter tinggi hati, yaitu memiliki pretensi bahwa ia berhak atas penghormatan.
Tuhan Yesus sebenarnya bermaksud menyampaikan perumpamaan bukan sebatas dalam perjamuan pesta saja, akan tetapi dalam perjamuan kerajaan Surga. Allah-lah yang berkuasa menempatkan seseorang itu tinggi atau rendah. Allah meninggikan orang yang rendah hati dan merendahkan orang yang tinggi hati. Karenanya, dalam bergereja, hendaknya kita berhati-hati. Jangan merasa diri lebih dari orang lain, sehingga lebih pantas menduduki jabatan-jabatan tertentu dalam gereja.
Hendaknya kita tidak menjadi ekslusif dalam hidup kita, berikanlah perhatian pada mereka yang terabaikan, kurang diperhatikan, yang tersisih dan sebagainya. Lukas 14: 13, yang dinyatakan oleh Tuhan Yesus orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta, merekalah orang-orang yang tersisih. Mari hidup tidak eksklusif sebab tujuan hidup dan pelayanan kita bukanlah untuk penghormatan bagi diri kita tetapi kemuliaan bagi Allah. Amin. (SEPUR)
Add comment