Ibadah Minggu, 15 September 2013 Ketika Sampah Masyarakat Bertobat
Ibadah Minggu (15/9) di GKJ Manahan jam 16.00 WIB dilayani oleh Pendeta Fritz Yohanes Dae Pany, S.Si dengan menggunakan Tata Ibadah Minggu I. Kotbah didasarkan dari Injil Lukas 15: 1-10 perumpamaan tentang domba yang hilang dan perumpamaan dirham yang hilang. Dalam kotbahnya, pendeta Fritz menyatakan bahwa dalam kehidupan kita bermasyarakat pasti muncul sebuah pernyataan demikian :“untuk apa menolong orang itu, orang itu layak dimusnahkan; lebih baik tidak ada di dunia ini!” Sebuah kalimat penolakan, yang mungkin sering kali telah kita dengarkan. Ada orang-orang yang menginginkan orang lain disingkirkan dari kelompok masyarakat. Dan biasanya, orang yang disingkirkan disebut sebagai sampah masyarakat.
Di tengah-tengah masyarakat, ada sekelompok orang yang dianggap sebagai sampah masyarakat. Dianggap sebagai orang yang tidak berguna dan disingkirkan dari antara masyarakat. Tetangga-tetangganyapun akan sulit menerima keberadaan orang-orang yang di cap sampah masyarakat.
Senin sore kemarin, (29/7) Komisi Rumah Doa Meester Soewidji GKJ Manahan menyelenggarakan persekutuan doa ucap syukur atas 6 tahun pelayanan di rumah doa ini. Persekutuan dimulai pukul 18.00 WIB dipimpin oleh Ibu Widyarti Riani Hutapea sebagai pemimpin pujian, didukung iringan musik oleh grup Punakawan GKJ Manahan.