
Hari Jumat (7/10) yang lalu, jemaat GKJ Manahan menyelenggarakan kebaktian Emiritasi Pdt. Widya Notodiryo, S.Th. Ibadah dimulai jam 17.00 WIB dengan pembuka berupa perarakan Majelis, Pdt. Widya dan para pendeta gereja sekitar. Votum dan Salam dilayankan oleh Pdt. Fritz Yohanes Dae Panny, S.Si, kemudian Pelayanan Emiritasi dilayankan oleh Pdt. Nomolas Daryanto selaku Pengunjung Gerejawi Sinode XXV GKJ.
Kotbah disampaikan oleh seorang kawan lama Pdt. Widya, yaitu Pendeta Em. Andreas Agus Susanto, S.Th dengan bacaan yang didasarkan dari Filipi 3: 1b – 16. Dalam kotbahnya, Pdt. Andreas menyatakan bahwa tidak seorangpun menyangka bahwa pak Widya akan menjadi seorang pendeta, melihat pendidikannya dulu adalah SPG Kristen Klaten.
Lanjut dalam kotbahnya, Pdt. Andreas menyatakan tidak ada yang mustahil dalam Tuhan Yesus. Dalam bacaan Filipi dinyatakan bahwa tidak ada yang menyangka, bahwa Paulus akan menjadi hamba Tuhan Yesus Kristus. Ia yang kita ketahui bersama latar belakangnya sebagaimana yang dinyatakan Paulus yang seolah-olah menunjukkan kehebatan masa lalunya, tetapi akhirnya semua dianggapnya sampah karena pengenalan akan Kristus lebih berharga dari segala sesuatu. Demikian pula dengan pendeta Widya, apakah yang dapat dibanggakannya? Tidak ada dalam hidupnya yang bisa dibanggakannya, hanyalah ketaatannya pada Kristus yang memampukannya melayani sebagai pendeta hingga mencapai masa emiritasi.
Dalam Ibadah Emiritasi ini, Walikota Surakarta berkenan memberikan sambutan yang dibacakan oleh Bp. FX. Hadi Rudyatmo selaku Wakil Walikota Surakarta. Dalam sambutan yang disampaikan, Walikota Surakarta mengucapkan selamat atas emiritasi pendeta Widya dan menyampaikan harapan kiranya dengan emiritasi ini diharapkan pendeta Widya masih terus berperan dalam mendukung program-program Pemerintah Kota Surakarta utamanya dalam membangun konsep perdamaian dalam keberagaman.
Dalam sambutan kenangannya, Pdt Widya menanggapi sambutan Walikota Surakarta bahwa GKJ Manahan terbuka bagi siapapun untuk menjalin persahabatan dengan jemaat, selain itu beliau juga menyatakan bahwa memang hanya oleh anugerah Tuhan saja maka beliau bisa melayani sampai masa emiritasi. Keluarga Pdt Widya juga memberikan persembahan pujian dalam sambutan ini, dengan lagu yang menyatakan bahwa hanya oleh anugerah Tuhan saja maka bisa melayani. Demikian pula dengan rekan-rekan semasa kuliah di STT Duta Wacana angkatan tahun 1970, ternyata banyak yang hadir dan bersama-sama memberikan persembahan pujian pula.

Setelah sambutan-sambutan, acara dilanjutkan dengan prosesi pemotongan jenggot Pendeta Widya oleh Bp. Rudy, dengan sebelumnya menjelaskan alasan beliau memelihara jenggot. Jenggot dipelihara sebagai nazar untuk melengkapi doa pendeta Widya untuk bisa mendapatkan penerus pendeta yang akan menggembalakan jemaat GKJ Manahan. Atas terpenuhinya doa dan nazar tersebut, dengan diberikannya Pdt. Fritz Yohanes Dae Panny, S.Si dan Vikaris Samuel Arif Prasetyono, S.Si untuk melayani jemaat GKJ Manahan oleh Tuhan, maka dihadapan jemaat Pdt. Widya memberikan jenggotnya untuk dicukur. Tentunya hal ini tak hanya mengundang tawa dari jemaat tetapi juga kekaguman, pemeliharaan jenggot tersebut bukan asal-asalan tetapi dengan kesungguhan dan keteguhan hati bernazar kepada Tuhan.
Dalam acara ini, diberikan pula tanda kasih kepada Pendeta Widya secara simbolis berupa rumah, dan sebungkus kado kenang-kenangan. Acara diakhiri dengan doa penutup oleh Ketua II Majelis GKJ Manahan, Bp. Tri Setya Wahyu Nugroho. [SePur]
Add comment