
Jemaat yang dikashi dan mengasihi Tuhan Yesus Kristus!
Minggu ini, jemaat dan semua orang beriman murid Kristus di seluruh dunia, memasuki masa pra Paskah II. Prioritas utama kehidupan serta dinamika kita dikonsentrasikan atau difokuskan kepada karya Agung Tuhan Allah, akan kesetiaan janji keselamatanNya kepada orang-orang berdosa. Bacaan leksionari di atas telah memberikan pola acuan kepada kita, orang beriman (murid Kristus), agar dapat merajut benang merah tentang kesetiaan Allah akan janji keselamatan untuk orang-orang berdosa.
Ada dua persoalan utama yang perlu disikapi oleh setiap orang percaya, dalam konteks paparan ayat-ayat bacaan leksionari di atas. Pertama, mengapa dan bagaimana Allah konsern terhadap upaya penyelamatan manusia dari kehancurannya karena ulah Si Penguasa Kegelapan, yaitu IBLIS? Kedua, mengapa dan bagaimana seharusnya kita orang percaya (murid Kristus) menyikapi "komitmen" akan kesetiaan janji keselamatan yang Allah berikan itu?
1.a. Mengapa Allah perlu, bahkan komit, untuk menyelamatkan manusia dari hukuman dosa, yaitu maut "kekal"? Pasti ada alasan yang sangat mendasar dan prinsipil, bagi karya agung Allah ini. Perjanjian Tuhan dengan Abraham merupakan bentuk pengulangan dan penegasan terhadap janjiNya, pada Adam dan Hawa (Kej. 3:1-24, komitmenNya pada ayat 15) setelah mereka jatuh ke dalam dosa. Jadi, "cetak biru" (blue-print) karya penyelamatan itu telah ditetapkan pada saat itu, oleh Allah. Begitu manusia jatuh ke dalam dosa (pasti dihukum), begitu Allah mengambil inisiatif untuk menyelamatkan manusia "berdosa", sangat jelas alasan Tuhan Allah berinisiatif menyelamatkan manusia, karena tidak pernah terjadi (ada) di kolong langit ini seorang "pencipta maha-karya" yang menghancurkan atau membinasakan hasil ciptaannya. Terlebih manusia sebagai ciptaan MAHAKARYA SANG PENCIPTA AGUNG, sekaligus "citra" Allah pribadi, pasti akan diselamatkan dari kehancuran karena "ulah" Si Penguasa kegelapan, yaitu IBLIS. Ini suatu alasan yang paling logis, mengapa Allah setia memegang janji keselamatan itu.
Icon-icon penyelamatan manusia (umat Israel) secara konsisten dihadirkan Tuhan Allah setelah Adam jatuh ke dalam dosa. Ada Abraham, ada Yusuf, ada Musa, ada Yosua, sampai masa orang-orang Israel dibuang ke Babel, ada Nabi Elia, ada Ester dan sampai pada masa Perjanjian Baru, yaitu penggenapan dari komitmen Allah yang dinyatakanNya melalui karya Tuhan Yesus Kristus sebagai Juru Selamat sejati
1.b. Bagaimana Allah harus menyelamatkan manusia dari hukuman dosa? Inilah "focus" kita dalam konteks pra-Paskah minggu ini, pastilah bukan manusia, meskipun itu pilihan Allah sebagai icon-penyelamatan yang disebutkan di atas. Namun demikian itu semua merupakan "simbol-simbol" keniscayaan akan komitmen firman Allah terhadap Adam dan Hawa, dan merupakan penegasan program penyelamatan manusia yang telah jatuh dalam dosa. Manusia Yesus Kristuslah, yang tidak berdosa, yang dipilih Allah Bapa sebagai "penanggung" seluruh dosa umat manusia. Dialah satu-satunya PRIBADI yang mampu menggenapi program karya penyelamatan Allah bagi manusia berdosa di dunia ini. Hanya satu kata, yaitu PERCAYA saja pada pribadi Yesus Kristus untuk memperoleh jaminan keselamatan, hidup kekal, tidak binasa. Bukan agama, bukan tradisi gereja, bukan perbuatan baik yang memberikan jaminan keselamatan, baca ulang Yohanes 3: 16, agar kita menjadi semakin yakin pada kasih karuniaNya.
2.a. Mengapa kita harus meyakini kesetiaan janji keselamatan, di dalam Pribadi Yesus Kristus, dari Allah? Keselamatan itu "anugerah", pemberian cuma-cuma dari Allah yang sangat mahal harganya, karena telah ditebus dengan darah Kristus Yesus. Pantaskah kita menolak "anugerah" (pemberian cuma-cuma) dari Allah, yang tidak mungkin kita dapatkan di luar pribadi Kristus Yesus, cobalah kita renungkan secara mendalam! Tuhan Allah tidak pernah ingkar janji, Ia selalu komit dan konsisten terhadap firman yang telah dinyatakanNya. Pastikan bahwa jaminan keselamatan itu telah kita miliki…" supaya setiap orang yang percaya kepadaNya (Yesus Kristus) tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal" (Yoh. 3:16b), silakan perikop ini dibaca sampai dengan ayat 21, agar lebih jelas). sudahkah Anda menempatkan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat secara pribadi? Itulah yang seharusnya kita yakini!
2.b. Bagaimana seharusnya kita menyikapi dan meyakini akan komitmen kesetiaan janji keselamatan dari Allah, yang telah difirmankanNya? Apa atau siapakah "sentral" kehidupan kita, sebagai murid Kristus, saat ini? Kalau kita telah menempatkan Yesus Kristus sebagai "pusat kehidupan", maka seharusnya tidak perlu ada keraguan untuk melangkahkan kaki kita di tengah-tengah dinamika dunia yang carut-marut ini. Karena Yesus Kristus ada sebagai pemimpin hidup kita, maka kita akan mengalami pengalaman hidup bersama dengan Dia. Ia mau kita berhasil, berhasil untuk memenuhi tujuan Allah bagi hidup kita, yaitu menyerupai Dia. Jangan takut berjalan dengan Dia karena Dia akan menunjukkan kesalahan dan dosa kita, bukan untuk menghakimi, tetapi untuk menunjukkan di mana kita masih perlu bertumbuh dan memperbaiki diri. Ia di dalam kita untuk menolong kita agar kita "menang" terhadap egoistis dan egosentrisme kita, baik ketika kita di rumah, di kampus, atau di kantor. Konflik sering terjadi karena egoistis atau egosentrisme setiap orang ingin menang. Tetapi ketika Kristus ada di dalam hidup kita, sungguh luar biasa, kita berani mengalah, bersabar, rendah hati, rela menderita (berkorban).
Bukankah banyak hal yang dapat kita lakukan sehari-hari? Itulah ujian yang kita hadapi, untuk melihat apakah Yesus Kristus yang memimpin hidup saudara dan saya. Kalau benar demikian, maka yang keluar dari bibir, mulut, pikiran, dan hati saudara dan saya adalah ucap-syukur senantiasa. Perilaku, sikap, dan sepak terjang saudara dan saya adalah "kidung pujian" bagi kemuliaan nama Tuhan Allah, itulah representasi Galatia 2:20. … "namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diriNya untuk aku".
Apapun yang terjadi, kesetiaan dan ketaatan saudara dan saya kepada Yesus Kristus adalah harga mati, agar kita diberikan kemampuan olehNya untuk merefleksikan "kesetiaan janji keselamatan" yang diberikan Allah kepada setiap orang, terlebih yang belum mengenal Yesus Kristus, supaya mereka juga menerima janji keselamatan itu. Jangan bimbang, takut dan ragu menyampaikan berita suka cita kepada dunia ini. Sengsara, kematian, dan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus yang kita yakini, adalah bukti kemenanganNya atas kuasa maut, damai sejahtera Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus senantiasa menyertai saudara dan saya selamanya! Amin.
Bacaan I: Kej. 15:1-12, 17-18;
Tanggapan: Mazmur 27;
Bacaan II: Filipi 3:17-4:1;
Bacaan III: Injil Lukas 13:31-35
Sumber: Warta Gereja Edisi: Minggu, 24 Februari 2013