Warta Gereja Edisi: Minggu, 18 September 2011
Baca Online Warta Gereja Edisi: Minggu, 18 September 2011

Baca Online Warta Gereja Edisi: Minggu, 18 September 2011
Baca Online Warta Gereja Edisi: Minggu, 11 September 2011
Ibadah Minggu (11/9) jam 08.30 WIB di GKJ Manahan dilayani oleh Pdt. Fritz Yohanes Dae Panny, Ssi, dengan kotbah yang didasarkan dari Matius 18: 21-35. Berdasarkan bacaan tersebut, kotbah membahas mengenai pengampunan yang tiada batas. Di awal kotbahnya, Pdt. Fritz menunjukkan sebuah buku berjudul Dua Tahun Pertama Hidup Berkeluarga, karangan Kathleen Fischer Hart dan Thomas N. Hart. Satu bagian buku tersebut menyatakan kisah tentang Toni dan Santi yang telah lima tahun berkeluarga tetapi sejak tahun pertama sudah mengalami konflik. Masing-masing merasakan tidak ada yang spesial dalam kehidupan berkeluarga mereka. Oleh sebab mereka saling memendam kemarahan dan merasa susah dan tidak mampu mengenal pasangannya dengan baik, akibatnya mereka tidak merasakan ada yang istimewa dalam hubungan mereka.
Ibadah Minggu (11/9) jam 08.30 WIB di GKJ Manahan dilayani oleh Pdt. Fritz Yohanes Dae Panny, Ssi, dengan kotbah yang didasarkan dari Matius 18: 21-35. Berdasarkan bacaan tersebut, kotbah membahas mengenai pengampunan yang tiada batas. Di awal kotbahnya, Pdt. Fritz menunjukkan sebuah buku berjudul Dua Tahun Pertama Hidup Berkeluarga, karangan Kathleen Fischer Hart dan Thomas N. Hart. Satu bagian buku tersebut menyatakan kisah tentang Toni dan Santi yang telah lima tahun berkeluarga tetapi sejak tahun pertama sudah mengalami konflik. Masing-masing merasakan tidak ada yang spesial dalam kehidupan berkeluarga mereka. Oleh sebab mereka saling memendam kemarahan dan merasa susah dan tidak mampu mengenal pasangannya dengan baik, akibatnya mereka tidak merasakan ada yang istimewa dalam hubungan mereka.
Baca Online Warta Gereja Edisi: Minggu, 4 September 2011
Baca Online Warta Gereja Edisi: Minggu, 28 Agustus 2011
Hari ini, Kamis (25/8) di GKJ Manahan dilaksanakan visitasi oleh BAPELKLAS Kartasura. Visitasi dibuka dengan menyanyikan pujian dari Kidung Jemaat No. 3 dipimpin oleh ibu Widyarti Riani Hutapea, dilanjutkan pelayanan Firman oleh Pdt. Fritz Yohanes Dae Panny, S.Si dengan kotbah yang didasarkan Surat Filipi 2: 1 – 11. Dalam kotbahnya, Pdt. Fritz menyatakan mengenai persekutuan. Tentang bagaimana kita berkumpul sore ini, ada ibu-ibu, bapak-bapak, ada yang sudah sepuh, yang setengah baya maupun kaum muda. Namun, kalau kita dikatakan berkumpul, apakah selalu berpadu? Belum tentu. Itulah yang dimaksudkan oleh Rauven Kahane ketika ia mengatakan “Mixed but not combined” dalam bukunya The Problem of Political Legitimacy in an Antagonistic Society : The Indonesian Case (London: Sage Publication, 1973). Di Indonesia ini, orangnya memang berbaur dengan suku, agama dan golongan yang berbeda-beda. Tetapi sekalipun berbaur, tetapi tidak berpadu. Artinya ada kemungkinan adanya disintegrasi bangsa. Sehingga tak heran dewasa ini kita sering melihat perpecahan dalam bangsa ini.
Hari ini, Kamis (25/8) di GKJ Manahan dilaksanakan visitasi oleh BAPELKLAS Kartasura. Visitasi dibuka dengan menyanyikan pujian dari Kidung Jemaat No. 3 dipimpin oleh ibu Widyarti Riani Hutapea, dilanjutkan pelayanan Firman oleh Pdt. Fritz Yohanes Dae Panny, S.Si dengan kotbah yang didasarkan Surat Filipi 2: 1 – 11. Dalam kotbahnya, Pdt. Fritz menyatakan mengenai persekutuan. Tentang bagaimana kita berkumpul sore ini, ada ibu-ibu, bapak-bapak, ada yang sudah sepuh, yang setengah baya maupun kaum muda. Namun, kalau kita dikatakan berkumpul, apakah selalu berpadu? Belum tentu. Itulah yang dimaksudkan oleh Rauven Kahane ketika ia mengatakan “Mixed but not combined” dalam bukunya The Problem of Political Legitimacy in an Antagonistic Society : The Indonesian Case (London: Sage Publication, 1973). Di Indonesia ini, orangnya memang berbaur dengan suku, agama dan golongan yang berbeda-beda. Tetapi sekalipun berbaur, tetapi tidak berpadu. Artinya ada kemungkinan adanya disintegrasi bangsa. Sehingga tak heran dewasa ini kita sering melihat perpecahan dalam bangsa ini.
Ada yang beda dalam ibadah minggu (21/8) jam 18.00, ibadah kali ini menggunakan variasi instrumen musik untuk memandu nyanyian jemaat. Sekalipun yang dinyanyikan adalah Kidung Pujian dan Nyanyian Rohani, tetapi penggunaan band sebagai pengiring nyanyian dalam ibadah ini dirasakan sangat baik dan memberikan penyegaran dalam bernyanyi bagi jemaat. Ibadah dipimpin oleh bapak Kis Yudhanto dengan kotbah yang didasarkan dari Roma 12: 1-8, dengan judul sesuai ketetapan sinode GKJ yaitu Menjadi Saksi Mesias di Tengah-Tengah Bangsa Kita.
Berikut ini ringkasan kotbahnya. Kita mungkin sering melihat calo di terminal. Di terminal Tirtonadi, biasanya para calo ini berteriak-teriak menawarkan jurusan bus, mengantarkan penumpang akan tetapi dia sendiri tidak akan sampai ke kota tujuan yang ditawarkannya. Jangan sampai kita menjadi seperti calo yang berteriak-teriak mengenai hal kerajaan Sorga akan tetapi justru kita yang tidak akan sampai ke sana.
Ada yang beda dalam ibadah minggu (21/8) jam 18.00, ibadah kali ini menggunakan variasi instrumen musik untuk memandu nyanyian jemaat. Sekalipun yang dinyanyikan adalah Kidung Pujian dan Nyanyian Rohani, tetapi penggunaan band sebagai pengiring nyanyian dalam ibadah ini dirasakan sangat baik dan memberikan penyegaran dalam bernyanyi bagi jemaat. Ibadah dipimpin oleh bapak Kis Yudhanto dengan kotbah yang didasarkan dari Roma 12: 1-8, dengan judul sesuai ketetapan sinode GKJ yaitu Menjadi Saksi Mesias di Tengah-Tengah Bangsa Kita.
Berikut ini ringkasan kotbahnya. Kita mungkin sering melihat calo di terminal. Di terminal Tirtonadi, biasanya para calo ini berteriak-teriak menawarkan jurusan bus, mengantarkan penumpang akan tetapi dia sendiri tidak akan sampai ke kota tujuan yang ditawarkannya. Jangan sampai kita menjadi seperti calo yang berteriak-teriak mengenai hal kerajaan Sorga akan tetapi justru kita yang tidak akan sampai ke sana.